Sejarah Grajagan Header

Sejarah Desa Grajagan

Sekitar tahun 1805, di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi, tepat di tepi pantai Samudera Hindia yang oleh masyarakat Jawa disebut segoro kidul, datanglah serombongan orang dari Jawa Tengah. Mereka dikenal sebagai orang Mataram, dipimpin oleh Ki Ageng Wilis. Tujuan mereka waktu itu satu: membuka hutan untuk dijadikan tempat tinggal dan lahan bertani.

Rombongan itu menetap dan lama-lama berkembang menjadi sebuah perkampungan. Kepemimpinannya dipegang oleh Wono Samudro, tokoh yang sangat dihormati warga. Adiknya, Pringgo Kusumo, belakangan bahkan menjabat sebagai Bupati Banyuwangi.

Dari Grojokan Menjadi Grajagan

Kampung yang semula hanya dihuni beberapa keluarga ini terus tumbuh di bawah kepemimpinan Wono Samudro. Warga menamainya Grojokan, diambil dari bahasa Jawa karena suara ombak Laut Selatan yang bergemuruh terdengar seperti suara "grojokan" sepanjang waktu.

Kampung ini kemudian berkembang menjadi desa mandiri dan namanya berubah menjadi Grajagan. Wilayahnya dulu sangat luas, membentang hingga kawasan Alas Purwo.

Perjalanan Kepemimpinan Desa

Sejak berdiri, Desa Grajagan sudah berkali-kali berganti pemimpin dan mengalami beberapa kali pemekaran wilayah.

Wono Samudro memimpin dari tahun 1830 sampai wafat pada 1890. Ia dimakamkan di Grajagan Pantai, bersama saudara perempuannya yang dikenal dengan nama Buyut Nembok. Ketiga makam ini masih dirawat dan dikeramatkan warga sampai sekarang.

Sepeninggal Wono Samudro, kepemimpinan diteruskan oleh Rekso Samudro (1890–1930), lalu Tirto Samudro (1931–1950). Di masa Tirto Samudro inilah terjadi dua peristiwa penting: pada 1938, pusat pemerintahan desa dipindah dari tepi pantai (sekarang Dusun Grajagan Pantai) ke wilayah utara yang sekarang dikenal sebagai Dusun Curahjati. Di periode yang sama, Desa Grajagan juga dimekarkan menjadi tiga desa, yaitu Grajagan, Purwoasri, dan Kendalrejo.

Setelah Tirto Samudro wafat, jabatan lurah dilanjutkan oleh Noto Sudarmo hingga tahun 1968.

Tahun 1969 menjadi titik penting bagi desa ini. Untuk pertama kalinya, Kepala Desa Grajagan dipilih langsung oleh warga lewat pemilihan yang demokratis. Anas Makruf terpilih sebagai kepala desa pertama hasil pemilihan ini, menjabat hingga 1979. Di masanya, desa kembali dimekarkan menjadi Desa Grajagan dan Desa Sumberasri.

Kepemimpinan selanjutnya berturut-turut dipegang oleh Saidi sebagai pejabat sementara (1979–1982), lalu Untung Ngatiman yang terpilih lewat pemilihan langsung (1982–1985), dan Tolu Suparlan sebagai pejabat sementara (1985–1990).

Pada 1990, Hadi Sunoto terpilih sebagai kepala desa dan menjabat hingga 1999. Di masa kepemimpinannya, Desa Grajagan dibagi menjadi lima dusun: Curahjati, Bulusari, Sumberjati, Grajagan Pantai, dan Kampung Baru.

Setelah itu, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Y. Suwarmin, BA (1999–2007), kemudian Drs. Ponirin sebagai pejabat sementara (2007–2008), lalu Buntas Triono (2008–2013), dan Supriyono yang menjabat sejak 2013 hingga 2020.